Menanti Hujan “Bab.1.3″

Bab 1.3 Menanti Hujan | Hujan Masa Kecil Ku

Sore pun menjelang dan awan pun mulai mempertunjukan lukisan indahnya “Pelangi”. Ya Pelangi menandakan hujan berhenti dan keindahan pun terbit. Aku pun tersenyum menyambut Pelangi indah itu, sontak danar yang melihat wajah ku bertanya “Lou kenapa san? Senyum – senyum sendiri aja?” “Lou lihat tuh pelangi indah kan?:)” Sahutku sambil terseyum kepadanya. “Ya sih indah … ehh all apa aja tuh warnanya? coba tebak?” pintanya kepada teman – teman ku yang ikut melihat pelangi tersebut. “Ada merah, kuning sama hijau pastinya!” sahut andri, “Ada warna lain juga tuh?” tambah nur kepada teman – teman ku yang terbuai akan keindahan pelangi tersebut.

Sejenak kami terpesona akan indahnya pelangi. Terbersit dalam benak ku, “Semoga moment ini akan selalu ada sampai kami tua nanti! Dan kami akan senang berbagi cerita dengan penerus – penerus kami nanti :)”. Kalau difikir mungkin itu adalah fikiran yang terlalu kekanak – kanakan, tapi keadaan semacam ini adalah kenangan terindah yang pasti kita akan selalu tersenyum maupun bersedih saat menceritakan masa kecil kita dengan anak – cucu kita.

“Ehh pulang yuk dah sore nih?” Sahut Lisa yang membuat kami tersadar dari lamunan kami. “Ohh ya .. Ayo pulang tar gua diomelin ma ibu gua lagi ..” Tambah Nita dan Nur. ” Sep .. Besok lagi ya? kalo hujan lagi … :)” kami pun setuju, bila besok hujan kembali membasahi bumi maka kami akan berlari lagi mengejar pelangi.

Saat perjalanan pulang danar bertanya pada ku “San kenapa lou kayanya seneng amet kalo mandi hujan?” “Apa yang muncul setelah Hujan?” jawab ku padanya dia pun merespon kata – kata ku dengan kening yang dikerutkan “Pelangi .. Tapi apa hubungannya apa sama yang gua tanya ke lou tadi?” ku tersenyum mendengar kata – kata teman ku, lalu ku menoleh ke langit dan berkata padanya “Berada di tengah hujan rasanya seperti segala beban kita di hari itu ilang sama air yang ngebasahin tubuh kita … Abis itu muncul Pelangi seperti wajah kita yang berseri – seri. Kayanya semua beban udah ilang semua …” Danar yang mendengarkan kata – kata ku pun hanya tersenyum. Mungkin dia juga aneh anak umur 7tahun tapi pandangannya lumayan dewasa. Itu lah diri ku! Saat di suasana tertentu kata – kata yang ku keluarkan terkadang seperti rangkaian puisi.

“Ikhsan .. Tolong beliin ibu beras dulu ke warung!” Ibu ku memanggilku dengan kencang sehingga aku terbangun dari lamunan masa kecil ku. Sontak kata – kata keluar dari dalam hati ku “Fuhh semua cuman tinggal kenangan …” “Ya bu.. Sebentar ..” Aku pun menghampiri ibu ku yang meminta tolong untuk membelikan sesuatu di warung depan. Aku pun berjalan dalam hujan yang mulai lelah menangis di temani payung yang cukup besar ku berjalan di jalan yang dulu sering kami hiasi dengan canda dan tawa. Tapi semua sudah masa lalu.

Aku pun sejenak terlelap lagi dalam bayangan ku, “Dulu disini sering main bola kasti sama anak – anak :)” Ku tersenyum saat berjalan menapaki tempat yang dulu sering kami jadikan lapangan bermain kami. Aku melihat anak – anak di sekitar perkampungan ku sedang berlari – lari menikmati hujan yang membasahi mereka. Aku hanya tersenyum melihatnya dan merasa iri karena tidak dapat merasakan hal itu lagi sekarang bersama – sama teman – teman ku.

(Bersambung…)

About chandechildz

I'm the simple man Always happy everday every time every well View all posts by chandechildz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: