Menanti Hujan “Bab 2.5”

Bab 2.5 Menanti Hujan | Satu Sahabat Di Bawah Hujan

“Ndro tuh Monas …” “ohhh iye, akhirnya sampe juga san …” Kami begitu senang akhirnya keinginan kami dapat tercapai juga,  kami pun bergegas turun dari busway di Shelter Busway Monas. Saat kami memasuki kawasan Monas kami disambut dengan banyaknya antusias umat untuk menghadiri acara ini, Panji – panji keagungan dikibarkan hiasi langit – langit kota. “Ndro kita sholat isya dulu … bi situ baru kita masuk majelis” “Oke san ..” Sahut andri menandakan kesetujuannya akan saran ku. Sholat isya pun telah kami dirikan kami lekas pergi menuju kerumunan umat yang sedang melantunkan Sholawat, “Ayo ndro acara dah mau mulai …” Kami pun dengan langkah tergesa – gesa pergi menuju tempat acara berlangsung.

“Wah rame banget san …” Andri begitu takjub melihat kerumunan umat yang begitu banyak sekali memenuhi sebagian lahan Monas. “Masih mending ndro, tuh lu liat di proyektor peci putih semua …” Andri semakin takjub akan yang ia lihat seakan – akan ia tak percaya ternyata banyak sekali umat pecinta Sayidina Muhammad. Pembacaan  Maulid ‘Adiyal Ulami pun di bacakan tanda bahwa acara telah dimulai, kami berdua terbawa akan suasana yang khusyu’.

Tak disangka waktu begitu cepat berlalu, waktu telah menunjukkan pukul 22.30 W.I.B acara majelis pun ditutup dengan pembacaan dzikir Ya Allah, Aku menangis disana memikirkan akan dosa – dosa yang telah ku perbuat dan betapa aku merindukan masa lalu dengan teman – teman ku. Andai mereka ada disini bersama jalani hari – hari seperti dulu.

Acara pun telah selesai, kami berdua pun lekas meninggalkan tempat acara berlangsung. Kami pun langsung mencari angkutan umum menuju tempat tinggal kami “San naik apa nih?” Tanya andri pada ku “Slow ndro biasanya ada ‘Coi’ lewat kalo dah jam segene” “Yakin lou san?” Tanya Andri lagi dengan nada keraguan, “ Slow ndro Coi’ tuh kalo dah jam segene trayeknya sampai Senen. Jadi pasti ada!” Yakin ku kepada Andri. Betul saja tak lama kemudian angkutan C.01 lewat dan kami langsung memberhentikan angkutan tersebut, Diperjalanan pulang kami pun berbincang akan suasana yang baru kami lewati, “Waduh Ndro mantep kan? Apa lagi pas dzikir ehhh kena banget ndro …” Sahut ku pada Andri yang duduk tepat didepan ku. “Yoi san … bener tuh w aja kena banget san, ampe mw nangis w!” “Hahahaa kapan – kapan lagi gak nih?” Ajak ku kepada Andri, “Jadi san, gw mah woles aja hahaa” Jawab andri menimpali pertanyaan ku “Sep dah …”.

Diperjalanan yang begitu panjang tak ada hentinya kami membicarakan tentang kejadian yang kami rasakan di tempat tersebut, rasa yang baru dan begitu menyayat dan menyentuh perasaan kami mungkin juga semua orang yang berada ditempat tersebut. Karena begitulah yang terlihat di layar proyektor yang tersedia di tempat majelis dzikir tadi.

Rintikan hujan membasahi malam itu, satu hari lagi ku lewati hari dengan sahabat ku. Namun tetap menunggu yang lain, yang entah kapan kan bertemu dan berkumpul seperti dulu. Ku menatap kaca yang menutup bagian dalam mobil, tatapan kosong dalam rasa yang begitu merindukan persahabatan masa kecil ku. Diam ku dalam kebisingan mesin – mesin yang menghidupi malam kota Jakarta. Dan ku tetap dalam hening ku mengenang masa kecil yang ku rindukan. Tetap ku di temani satu sahabat yang setia menemani ku dalam panas maupun hujan.

About chandechildz

I'm the simple man Always happy everday every time every well View all posts by chandechildz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: